KAWAL INDONESIA – Jepang selama ini identik dengan gemerlap Tokyo, kuil-kuil Kyoto, hingga hiruk-pikuk Osaka. Namun, tren perjalanan mulai mengarah ke tempat yang jauh lebih tenang: desa-desa kecil yang menyimpan tradisi, alam, dan kehidupan lokal Jepang.
Destinasi semacam ini menawarkan pengalaman berbeda bagi wisatawan yang ingin keluar dari jalur wisata utama. Rumah tradisional, jalanan tenang, pegunungan, hutan, kuliner lokal hingga penginapan bergaya ryokan menjadi daya tarik tersendiri.
Melihat Jepang dari Sisi Berbeda
Desa-desa pedesaan Jepang memungkinkan wisatawan melihat kehidupan masyarakat yang masih mempertahankan tradisi turun-temurun.
Di Ouchi-juku, Fukushima, misalnya, deretan rumah beratap jerami mempertahankan atmosfer kota persinggahan pada era Edo. Sementara Miyama di Kyoto dikenal dengan rumah-rumah tradisional beratap jerami yang berada di tengah lanskap pegunungan.
Ada pula Ainokura di Toyama, desa kecil di kawasan Gokayama yang dikenal dengan rumah tradisionalnya dan suasana yang relatif lebih tenang dibanding destinasi Jepang yang sudah sangat populer.
Pesona tersebut bukan hanya soal pemandangan. Wisatawan juga dapat merasakan kuliner lokal, kerajinan tradisional, festival musiman, hingga keramahan masyarakat setempat.
Alam Jadi Daya Tarik Utama
Keunggulan lain desa-desa Jepang adalah lingkungan alamnya. Banyak kawasan pedesaan berada di antara pegunungan, hutan, lembah, maupun garis pantai.
Pengunjung dapat menikmati aktivitas seperti berjalan kaki, mendaki, berendam di onsen, hingga menikmati perubahan lanskap berdasarkan musim.
Shirakawa-go, misalnya, terkenal dengan rumah gassho-zukuri dan lanskap pegunungan yang sangat khas. Sementara kawasan seperti Tsumago menawarkan suasana kota pos era Edo dengan bangunan tradisional dan jalan yang relatif bebas dari lalu lintas kendaraan.
Wisata Pedesaan Sekaligus Menjaga Tradisi
Meningkatnya minat terhadap desa-desa kecil juga membawa peluang bagi masyarakat lokal. Pariwisata dapat menjadi sumber ekonomi sekaligus membantu mempertahankan budaya dan warisan yang mulai terancam ditinggalkan.
Pada 2025, empat wilayah Jepang—Asuka, Koyasan, Shodoshima, dan Tonosho—masuk daftar “Best Tourism Villages” versi UN Tourism. Pengakuan tersebut menyoroti upaya pengembangan pariwisata pedesaan sekaligus pelestarian budaya dan alam.
Tren tersebut menunjukkan bahwa pengalaman wisata kini tidak selalu harus identik dengan tempat yang ramai dan terkenal.
Bagi wisatawan yang ingin melihat sisi Jepang yang lebih tenang dan autentik, desa-desa kecil justru menawarkan sesuatu yang sulit ditemukan di pusat kota: kehidupan lokal, tradisi yang masih hidup, serta alam yang terasa lebih dekat. (wi)














