Breaking News
Selamat datang di KAWAL INDONESIA — Ikuti terus berita terbaru, informasi terkini, dan kabar viral hanya di KAWAL INDONESIA.

Juara Paskibraka Tak Mampu Beli Seragam, Imam Syafi’i: Jangan Sampai Prestasi Kalah oleh Kemiskinan

Anggota Komisi D DPRD Surabaya dari Fraksi NasDem, Imam Syafi’i bersama Putri seorang siswi kelas 10 SMKN 6 Surabaya
banner 120x600
Kawal Surabaya - Mau Ber-Opini atau Penayangan Video
IKUTI KAWAL SURABAYA
Berita • Opini • Video • Informasi Terkini
HUBUNGI KAMI — 0812 3261 4854
```

KAWAL SURABAYA — Di balik prestasi sebagai juara Paskibraka, tersimpan perjuangan berat seorang siswi kelas 10 SMKN 6 Surabaya bernama Putri. Siswi yang tinggal di kawasan Wonocolo itu bahkan menghadapi persoalan sederhana namun krusial: tidak mampu membeli seluruh seragam sekolah yang dibutuhkan.

Keprihatinan tersebut disampaikan anggota Komisi D DPRD Surabaya dari Fraksi NasDem, Imam Syafi’i, Senin (21/9/2026). Menurutnya, kondisi Putri menunjukkan bahwa masih ada anak berprestasi dari keluarga rentan yang harus berjuang keras hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar pendidikan.

Putri merupakan sulung dari tiga bersaudara. Untuk membantu kebutuhan sekolah, ia tidak hanya mengandalkan orang tua, tetapi juga menyempatkan diri berjualan kue. Penghasilan dari usaha kecil tersebut digunakan antara lain untuk memenuhi kebutuhan Lembar Kerja Siswa (LKS).

Kondisi keluarganya pun cukup berat. Sang ayah dua kali mengalami serangan jantung, namun tetap harus bekerja sebagai cleaning service. Penghasilannya disebut Imam tidak sampai setengah besaran upah minimum di Surabaya. Sementara sang ibu ikut mencari tambahan penghasilan dengan berjualan kue kucur.

Keluarga tersebut tercatat dalam kelompok desil 3 dan saat ini tinggal di rumah milik kakek Putri, di sebuah gang sempit di belakang kawasan kampus UIN Sunan Ampel (UINSA), Wonocolo.

“Putri, siswi kelas 10 SMKN 6 Surabaya, juara Paskibraka, tidak bisa beli seragam sekolah. Sulung dari tiga bersaudara ini nyambi jual kue supaya bisa bayar LKS,” ungkap Imam.

Menurut Imam, persoalan Putri bukan sekadar soal pakaian sekolah. Di balik seragam terdapat persoalan daya beli keluarga, beban pendidikan dan perjuangan anak untuk tetap bertahan mengejar pendidikan di tengah keterbatasan ekonomi.

Ironisnya, Pemkot Surabaya pada tahun ajaran 2026/2027 telah menyalurkan bantuan pendidikan kepada 7.380 siswa SMA/SMK/MA sederajat. Program tersebut menyasar keluarga miskin, prasejahtera, anak yatim/piatu serta kelompok desil kesejahteraan 1 hingga 5.

Ini Menarik !  Khofifah Temui Tiga Tokoh Palestina di Surabaya, Bahas Dukungan untuk Gaza

Dalam program tersebut, siswa penerima bantuan memperoleh perlengkapan berupa seragam putih abu-abu, seragam pramuka, sepatu dan kaus kaki. Untuk siswa SMA/SMK/MA swasta, bantuan biaya pendidikan juga diberikan sebesar Rp350 ribu per bulan untuk kebutuhan seperti SPP, LKS dan praktik.

Bahkan, Perwali Surabaya Nomor 23 Tahun 2026 mengatur penggunaan BOPDA untuk pengadaan pakaian dan perlengkapan sekolah bagi peserta didik dari keluarga tidak mampu yang masuk DTSEN desil 1 sampai 5 dan/atau keluarga miskin/pramiskin. Jenis perlengkapannya mencakup seragam putih, pramuka, batik, olahraga hingga sepatu dan perlengkapan lainnya.

Karena itu, kasus Putri menjadi pengingat bahwa persoalan pendidikan tidak selalu berhenti pada biaya sekolah. Kebutuhan seragam, perlengkapan, LKS hingga kebutuhan kegiatan sekolah tetap bisa menjadi beban bagi keluarga yang secara ekonomi berada di kelompok rentan.

Imam mengaku bersyukur ada kepedulian dari kakak kelas Putri. Sejumlah seragam bekas yang masih layak pakai diberikan kepada Putri dan diserahkan melalui dirinya.

“Saya sangat berterima kasih kepada kakak kelasnya yang menyumbang seragam sekolah bekas layak pakai untuk diserahkan langsung kepada Putri. Alhamdulillah,” kata Imam.

Namun, tidak seluruh seragam lungsuran tersebut dapat digunakan. Perubahan desain seragam sekolah membuat sebagian pakaian yang diberikan sudah tidak sesuai dengan ketentuan seragam Putri saat ini.

Kondisi itu membuat Imam kemudian membantu memenuhi kekurangan seragam Putri. Senin siang, ia membelikan sejumlah perlengkapan di koperasi sekolah, yakni baju olahraga, baju batik beserta bawahannya, serta baju kotak-kotak lengkap dengan bawahannya.

Kisah Putri memperlihatkan paradoks yang masih ditemukan di tengah berbagai program bantuan pendidikan. Seorang anak yang mampu mengukir prestasi sebagai juara Paskibraka ternyata masih harus berjualan kue agar kebutuhan sekolahnya terpenuhi.

Ini Menarik !  Dua Tahun Kinerja 50 Kursi DPRD Surabaya: Siapa Paling Sering Muncul, Isu Apa yang Dibawa?

Bagi Imam, kondisi tersebut harus menjadi perhatian bersama agar keterbatasan ekonomi tidak menghambat anak-anak Surabaya untuk berkembang dan berprestasi.

“Jangan sampai anak yang punya prestasi dan semangat sekolah justru terhambat karena persoalan kebutuhan dasar pendidikan,” pesan Imam. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *